Senin, 29 Desember 2014

Drama di dalam drama . . . ingin tau bagaimana kisahnya, ikuti terus postingannyaaa . . . ;)

"1 pesan belum di baca" layar hp yang menampakkan tulisan seperti itu tidak membuatnya terbangun untuk membacanya. Malam itu dia sangat kelelahan, berantai acara komunitas selama seminggu dia hadiri sampai larut malam.

Besok adalah malam terakhir puncak acara komunitasnya, dia butuh istirahat yang cukup, agar bisa tampil maksimal membawa nama baik komunitas daerahnya. Hari ini masih pagi, diapun masih belum terbangun juga. Ketika sinar matahari hinggap di jendela tempat istirahatnya, dia mulai membuka matanya, hanya sinar mataharilah yang mampu membuatnya terbangun.

Dia meraba sekitar kepalanya, mencari handphone untuk melihat pukul berapa dia terbangun, setelah handphone itu di raihnya, nampak 1 pesan yang belum terbaca dan langsung di bacanya. "Selamat! kamu diterima". Karena masih setengah sadar dia spontan menjawab sms tersebut "terima kasih". Tidak terpikir sedikitpun seberapa pentingnya sms yang baru dia baca itu, dia tetap melanjutkan aktivitas sebagaimana yang sudah dia rencanakan.

Hari menjelang siang, diapun sudah menyiapkan apa saja yang akan dibutuhkan untuk tampil nanti malam. Sambil menunggu waktu giliran tampil, dia membuka handphonenya kembali, tidak sengaja langsung terbuka sms yang dia baca tadi pagi. Dia baru menyadari sms itu adalah ucapan selamat dari temannya memberi kabar dia diterima masuk universitas yang mereka daftar bersama. Tidak ada rasa senang sedikitpun dalam dirinya, "apakah seorang teman yang memberi kabar ini juga diterima di universitas tersebut?" dia bertanya dalam hati sambil menanyakan hal itu kepada seorang teman yang mengirimkan sms tadi pagi.

Berjam-jam dia menunggu balasan dari seorang temannya itu, tapi masih saja belum ada balasan. Dia mulai berpikir dan bertanya-tanya dalam hati "apakah hanya dia yang diterima di universitas itu, kenapa dia tidak bertanya waktu membalas sms temannya tadi pagi, apakah jawaban tadi pagi itu terlihat sangat sombong, sampai temannya tidak membalas smsnya lagi" tidak ada habisnya dia berpikir dan menyalahkan dirinya, karena teman tersebut masih belum juga membalas smsnya.

Minggu, 28 Desember 2014

Ketika menulis kata Jepang, pena itu berhenti menumpahkan tintanya. Wajahnya begitu mendung, air mata mengalir deras, teringat sesuatu yang selalu mengganggu pikirannya.
Entah harus dimulai dari mana kisah ini, kisah yang lama dia pendam sendiri, karena percaya pada janji yang dikhianati begitu menyayat hati.
Keceriaan, senyuman, selalu terlukis indah di wajahnya, menutupi semua kisah sedih yang di alaminya. Namun semua itu bisa berubah, ketika orang yang disayangi mengkhianati dirinya.



"aku pulang dulu ya" sms yang pertama kali kamu kirimkan, masih dia ingat jelas dengan balasannya "maaf ini sapa?" dari sini lah, awal perkenalan mereka, yang masih berlanjut hingga tahun kelima ini.

Lima tahun telah berlalu, rasanya baru saja kemarin mereka bertemu. Sekarang konflik itu semakin membara. Menyerang hati yang tak terobati, semakin hari semakin menderita saja yang dia rasakan. Dia sudah lelah! kamu tidak akan pernah berubah! begitulah kamu! dia mengenalmu dengan sangat baik, semua tingkah lakumu, semua kebiasaanmu, dia mengetahui semuanya, bahkan semua jadwalmu terekam rapi di ingatannya.

Lima tahun itu bukanlah waktu yang sebentar, masalahnya bukan pada tahunnya, masalahnya ada pada hari-hari yang kamu lalui bersamanya. Dia bisa melihat ketidak jujuranmu dalam hal apapun, entah kamu sudah menjadikannya apa dalam hidupmu, dia sudah mengalaminya.

Dia juga manusia sepertimu! Dia juga perlu dihormati, perlu diperlakukan dengan baik. Sebenarnya dia sudah tau kenapa kamu melakukan itu, Dia hanya memiliki harapan kejujuran terlahir dalam dirimu. Tapi kamu lebih memilih kebohongan yang melindungi dirimu.

Sekarang dia ingin sendiri, waktu memberi jalan untuk pergi, pergi ke Negeri Sakura, negeri impian, negeri yang membuat dia untuk memilih masa depannya.