Rabu, 07 Januari 2015

Dia tinggal tepat dilantai 3 dari 5 lantai asramanya. Langkah-langkah kakinya berjalan sedikit malu, melewati koridor asrama tempat tinggal sementaranya itu, tak ada satupun orang yang dia temui di sepanjang koridor lantai 3 itu, di sudut ruangan, dia melewati tangga menuju lantai 4, tampak seseorang baru keluar dari kamar asrama lantai 4 tersebut.

Tanpa ragu dia memulai pembicaraan, "Halo, mahasiswa baru juga? aku Amik". "Iya mahasiswa baru, aku Amri, ayo masuk kamarku, kita ngobrol-ngobrol di dalam saja" jawab seseorang yang baru keluar dari kamar tersebut.

Penataan kamar di lantai 4 tersebut tidak jauh berbeda dengan kamarnya yang ada di lantai 3,  hanya saja, semua perabotan di lantai 4 ini semuanya masih terbungkus rapi, sepertinya sejak awal asrama ini dibangun, Amrilah yang pertama kali menempati kamar ini.

"Kamu tinggal di asrama ini juga ya?" tanya Amri. "Iya, kamarku di lantai 3, tapi di kamarku sudah ada penghuni lainnya, ada banyak barang di dalam sana, sudah ada 2 orang, 3 dengan aku, mereka pasti mahasiswa lama yang masih berlibur di rumah mereka, jadi aku berjalan mencari orang yang bisa di ajak mengobrol, kebetulan sekali kita sesama mahasiswa baru bertemu disini" jawab Amik.

Mereka sangat asik sekali melanjutkan perbincangan, saling menceritakan kisah kehidupan yang berkesan menurut mereka masing-masing. Amri adalah teman pertama yang dia kenal di asrama itu, Amri masuk jurusan bahasa Daerah, yang kebetulan juga satu gedung dengannya. Amri masuk di Universitas ini bersama beberapa teman dari SMAnya, salah satu teman Amri yang juga tinggal di asrama ini bernama Sina, Sina diterima di Fakultas lain, namun itu tidak memisahkan mereka, mereka masih tetap bersama walaupun tidak kuliah di gedung yang sama, sampai sekarang mereka masih berteman baik.

Amri berasal dari kota Kediri, kota yang sederhana, kota yang sampai saat ini masih dia ingat, kota yang sering dia kunjungi, kota yang menurutnya menyimpan banyak kenangan. Sebenernya bukan kotanya, tapi ada seseorang yang tinggal disana, yang selalu muncul dalam ingatannya.

Setelah berjam-jam menunggu, waktu begitu cepat berlalu, pada akhirnya dia memutuskan untuk izin tidak mengikuti acara komunitas sampai akhir. Dia harus mencari informasi dan mengurus semua urusan kampusnya sendiri, karena sampai detik ini juga, teman SMAnya belum memberinya kabar apapun.

Semua berjalan dengan lancar, dia mendapat tempat tinggal sementara di asrama yang jaraknya lumayan dekat dengan kampus, kira-kira kalau ditempuh dengan berjalan kaki, menghabiakan waktu sekitar 15 menit.

Fakultas otak kanan, jurusan bahasa asing, program studi bahasa Jepang, disanalah dia melanjutkan studi setelah SMA, tidak ada satupun orang yang dia kenali disana, lagi-lagi dia harus menghadapi hal-hal baru, suasana baru, teman-teman baru, semuanya baru.

Jurusan yang dia pilih ini, bukanlah jurusan yang sudah dia tekuni, namun jurusan ini adalah jurusan yang sama sekali belum dia pahami. Salah satu alasan kenapa dia memilih jurusan ini adalah karena teman SMA yang sampai saat ini belum menjawab pesan yang dia kirim lewat SMS dulu. Lebih jelasnya jurusan ini adalah pilihan teman SMAnya itu, yang pada awalnya dia hanya bermaksud untuk mengantar temannya, sedangkan dia hanya coba-coba ikut mendaftar, yang ada dipikirannya saat itu adalah, kalau sampai dia diterima di Universitas yang dia pilih, pastilah teman SMAnya juga diterima, karena yang dia pilih sama persis dengan yang dipilih teman SMAnya itu, lagi pula teman SMAnya ini sejak SMA juga sudah mahir berbahasa Jepang, jadi bisa belajar bersama.

Namun, Tuhan punya maksud lain, teman SMAnya tidak ditakdirkan untuk menemaninya di Universitas tersebut, dia harus memulainya sendiri, sungguh semua diluar yang sudah dia rencanakan, sejak inilah kisah barunya dimulai, dia bertemu dengan teman baru di asramanya, bertemu dengan teman baru dikampusnya, juga bertemu dengan orang baru di klub yang dia ikuti . . .